Asiaaudiovisualra09gunawanwibisono’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Apa Itu Gender

Gender merupakan kajian tentang tingkah laku perempuan dan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Gender berbeda dari seks atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis. Ini disebabkan yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminim dalam budaya lain. Dengan kata lain, ciri maskulin atau feminim itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin.
Kata Gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin (John M. echols dan Hassan Sadhily, 1983: 256). Secara umum, pengertian Gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Dalam Women Studies Ensiklopedia dijelaskan bahwa Gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.
Dalam buku Sex and Gender yang ditulis oleh Hilary M. Lips mengartikan Gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Misalnya; perempuan dikenal dengan lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa. Ciri-ciri dari sifat itu merupakan sifat yang dapat dipertukarkan, misalnya ada laki-laki yang lemah lembut, ada perempuan yang kuat, rasional dan perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat tersebut dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain (Mansour Fakih 1999: 8-9).
Heddy Shri Ahimsha Putra (2000) menegasakan bahwa istilah Gender dapat dibedakan ke dalam beberapa pengertian berikut ini: Gender sebagai suatu istilah asing dengan makna tertentu, Gender sebagai suatu fenomena sosial budaya, Gender sebagai suatu kesadaran sosial, Gender sebagai suatu persoalan sosial budaya, Gender sebagai sebuah konsep untuk analisis, Gender sebagai sebuah perspektif untuk memandang kenyataan. Epistimologi penelitian Gender secara garis besar bertitik tolak pada paradigma GENDER.
Pandangan para ahli psikologi mengenai gender adalah menyangkut karakteristik kepribadian yang dimiliki oleh individu, yaitu maskulin, feminine, androgini dan tak terbedakan. Masing-masing karakteristik kepribadian gender tersebut memiliki karakteristik tersendiri, yang mempengaruhi perilaku seseorang.
The Oxford Encyclopedia Of The Modern World (Esposito, 1995 gender adalah pengelompokkan individu dalam tata bahasa yang digunakan untuk menunjukkan ada tidaknya kepemilikan terhadap satu ciri jenis kelamin tertentu. Gender menurut Illich (1998) merupakan satu diantara tiga jenis kata sandang dalam tata bahasa, yang kurang lebih berkaitan dengan pembedaan jenis kelamin, yang membeda-bedakan kata benda menurut sifat penyesuaian dan diperlukan ketika kata benda itu dipakai dalam sebuah kalimat. Kata-kata benda dalam bahasa Inggris biasanya digolong-golongkan menurut gender maskulin, feminin dan netral. Secara terminologis, gender digunakan untuk menandai segala sesuatu yang ada di dalam masyarakat “vernacular”[bahasa, tingkah laku, pikiran, makanan, ruang, waktu, harta milik, tabu, alat-alat produksi dan sebagainya]. Secara konseptual gender berguna untuk mengadakan kajian terhadap pola hubungan sosial laki-laki dan perempuan dalam berbagai masyarakat yang berbeda (Fakih, 1997).
Istilah gender berbeda dengan istilah sex atau jenis kelamin menunjuk pada perbedaan laki-laki dan perempuan secara biologis (kodrat), gender lebih mendekati arti jenis kelamin dari sudut pandang sosial (interpensi sosial kultural), seperangkat peran seperti apa yang seharusnya dan apa yang seharusnya dilakukan laki-laki dan perempuan (Mansur Fakih, 1996). Lips (1988), Abbott (1992), Mosse (1996), membedakan kata sex sebagai(ciri- ciri biologis, fisik tertentu jenis kelamin biologis) Sex merupakan pembagian 2 jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis (kodrat), individu dilahirkan sebagai seorang laki-laki atau seorang perempuan. dan gender lebih mendekati arti jenis kelamin dari sudut pandang sosial. Gender merupakan jenis interpretasi sosio-kultural, seperangkat peran yang dikontruksi oleh masyarakat bagaimana menjadi laki-laki (kuat, tegas, perkasa, kasar, dst) atau perempuan (taat, penurut, lemah, keibuan, penuh kasih sayang). Perangkat perilaku khusus ini mencakup penampilan, pakaian, sikap, kepribadian, seksualitas, tanggung jawab keluarga dan sebagainya.
PERBEDAAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
Pandangan masyarakat tentang anak laki-laki dan perempuan pada umumnya yang dianggap lemah adalah kaum perempuan. tiap kali ada pekerjaan yang terasa berat mengeluarkan dan tenaga anak laki-laki yang selalu di unggul unggulkan. sebaliknya perempuan dianggap rapuh, pandangan ini seakan-akan sudah menjadi sebuah patokan, bahwa memang seperti itu adanya.
Tiap kali seorang ayah ada pekerjaan yang terasa mengeluarkan tenaga ataupun terasa berat selalu saja anak laki-laki yang di suruh dan anak perempuan sekali lagi dianggap lemah dengan fonomena tersebut. Pandangan masyarakat tentang seorang laki-laki adalah seorang yang mempunyai tenaga, biasa dalam mengeksprisikan emosinya yang berlebihan, terbiasa marah, bertingkah yang berlebihan dan kegiatan fisik yang agresif Sebaliknya seorang perempuan dianggap rapuh dalam pekerjaan yang berat, suka malu-malu dan lebih menunjukan perasaan kasih sayang juga kelembutan.
Hal ini ironis sekali bukan hanya laki-laki yang bisa menangani pekerjaan yang berat, perempuan pun juga bisa. bukan hanya pekerjaan membosankan dan membuang waktu, Perempuan pun bisa melakukan pekerjaan yang dilakukan pria bahkan mungkin lebih dari itu. laki-laki dianggap ekspresif wanita pun juga ekpresif. Seorang wanita lebih menonjolkan kelembutannya tapi dibalik semua itu bisa melakukan hal yang luar biasa melebihi kemampuan seorang pria. Dorongn dari orang tua merupakan kunci utama. Orang tua mampu menjadikannya lebih dari yang dilihat dari kacamata masyarakat.
Laki-laki itu lebih memendam rasa kasih sayang juga rasa memerlukan kehangatan dan kelembutan maka mereka dipandang seakan memiliki egoisme dan ekspresi yang berlebihan dan tanpa adanya yang ditutupi. Oleh karena itu pandangan selama ini ternyata bukan sebuah dasar dan patokan yang paten.
Seorang perempuan pun bisa mengapai mimpi melebihi seorang laki-laki, Mereka bisa membawa secercah cahaya kalembutan yang membuat perasaan damai. Ketika di adu keahlian mereka juga bisa melebihi laki-laki.

Advertisements

June 12, 2009 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: